Jumat, Januari 16, 2009

Trinity


Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengatakan sebuah kalimat yang sampai saat ini terngiang di kepalaku.

"Itu kan urusan arsitek! Kita urusin interior aja!"

Ya. Memang saat itu aku sedang mengerjakan project dalam koridor desain interior untuk sebuah project di mumbai. Kalimat tersebut memang tidak salah dalam sebuah koridor profesionalitas, namun bagiku kalimat tersebut terasa begitu mengganjal. Mengapa terjadi pengkotakan dalam arsitektur. Menurutku, entah itu desain lansekap, bangunan ataupun interior, mereka berada dalam satu kaki menjejak di tanah yang sama. Tiga-tiganya tidak terpisah. Trinity, tiga dalam satu, begitu kata seorang rekan.

Namun sering terjadi seorang arsitek begitu gusar saat desainnya di'seruduk' desainer interior supaya desainnya masuk. Demikian juga sebaliknya. Sebuah project menjadi mendan perang bagi ketiganya. Saling beradu ego. Ingin terlihat paling menonjol.

Ego kerapkali mengaburkan idealisme....

Kalau arsitektur bertujuan untuk hidup yang lebih baik, seharusnya ketiganya berpegangan tangan, berdialog, bersinergi dalam satu nyawa, saling melengkapi.

Sebuah hal yang realistis ataukah utopis?

Mari berpegangan tangan...

Bahasa Hujan

Kebun Sanur, 19:30 WITA
Keheningan kantor bersama dinginnya udara malam ini semakin membuatku malas untuk beranjak dari kursi kantor. Sebagian besar rekan kantorku sudah keluar untuk makan dan pulang. Di ruang gajah tinggal aku dan seorang senior. Mungkin beberapa saat lagi saat kemalasan mulai berkurang dan perut mulai keroncongan kita akan mengikuti rekan yang lain untuk beranjak meninggalkan kantor ini menuju ruang transisi dengan udara dinginnya. 

Ya. Ruang transisi. Begitu aku menyebut ruang di antara kantor dan kos-kosanku. Karena setiap hari, ruang itu hanya menjadi ruang yang mengantarkan aku ke kantor. Ruang antara yang sangat dinamis, kadang ramai, kadang sepi, kadang gelap, kadang terang, kadang panas, kadang dingin. Sangat relatif. Dan malam ini ruang transisi sedang dalam status dingin.

...

Beberapa hari belakangan, sepertinya langit tidak begitu ramah pada bumi dan manusia. Tak ada hari yang absen dari guyuran hujan yang ditumpahkan dari langit. Ya. Bukan lagi mengucur, tapi tumpah! Daerah renon yang menurutku cukup aman dari banjir saja bisa tergenang air setinggi 50 sentian. Bahkan ada seorang teman yang libur karena kantornya ikut tergenang!

Setiap hari, hanya bisa merinding ketika melihat melihat ke luar kaca jendela dari dalam kantor. Merinding membayangkan rasanya berada di luar sana. Hujan deras disertai angin yang cukup kuat untuk menggoyangkan sebatang pohon yang selama ini terlihat begitu tegar. Mungkin langit memang sedang kesal pada manusia yang mulai tidak menghargai alam.

Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan klasik (menurutku) yang selalu menjadi bahan cercaan dosen ketika setiap akhir semester seorang mahasiswa mempresentasikan desainnya.

"Ini kalo mau kesini pas hujan bagaimana? Gak ada atapnya gini"

Dulu aku hanya bisa garuk-garuk kepala dengan tersenyum pahit. Jawaban yang menurutku cukup masuk akal saat ini adalah:

"Ya basah pak"

Ya...

Basah...

Alam hadir lebih dahulu daripada manusia. Hujan yang merupakan karya agung dari langit, dapat dijadikan teman atau lawan. Ada saatnya kita diam hanya untuk menikmati karya agung dari langit tersebut. 

Alam merupakan sumber pengalaman yang luar biasa yang selalu berusaha menyapa anak-anaknya. Ada saatnya bersentuhan dengan air, berlari melewatinya dengan payung, atau sengaja menerobos dengan kepala basah menghasilkan sebuah pengalaman yang berbeda daripada melewatinya dengan lantai dan atap yang nyaman. Terdapat kejujuran dan kenaifan dalam pengalaman itu. Ada yang tertawa setelah menerobos hujan karena dalam beberapa langkah lari tersebut alam menyentuh memori masa anak-anaknya.

Hanya sebuah justifikasi yang relatif.

Lebih banyak alasan menurut ego manusia untuk menyangkalnya.

Tapi satu yang kupegang, bahwa alam ingin menyentuh kita semua dalam berbagai cara. Tergantung kesensitifan sang arsitek untuk menerjemahkan bahasa alam tersebut sebagai teman dalam desain. Agar sentuhan tersebut sampai kepada penikmat arsitektur.

Seperti kata Pak Joseph Prijotomo " Arsitektur nusantara adalah rumah di dalam kebun. Bukan kebun di dalam rumah"

Kebun Sanur, 20:00 WITA
Kantor telah sepi. Tinggal aku sendiri, rekan yang tadi menemani sudah pulang lebih dulu. Mungkin sudah saatnya aku juga ikut beranjak untuk menikmati ruang transisi di luar sana yang pastinya masih dingin. Menyapa alam, menyelami bahasanya....

Sabtu, Januari 10, 2009

The Rat Chronicle


Yang pernah berkuliah di arsitektur pasti pernah merasa terusik mendengar nama derrida. Siapa orang ini, sehingga panggung arsitektur dunia tergoncang. Kemapanan, kestabilan bergerak menuju ketidakstabilan. Requestioning terjadi dimana-mana. Pengetahuan yang dibangun dalam hitungan puluhan tahun, runtuh.

Tentang petanda dan penanda...

Tentang jejak yang muncul lebih dahulu daripada keberadaan...

Aku tidak akan membahas lebih lanjut, karena, banyak yang lebih pakar dalam hal ini. Kelebatan kata-kata tadi muncul karena sebuah drama yang baru saja terjadi. Sebuah anekdot barangkali. Kisahnya seperti ini....

Januari awal...
Aku membuka pintu taksi bersama seorang rekan dari bandara ngurah rai. Dengan barang beberapa pikul kita menuju kamar kosku. Aku hendak mengambil motorku, karena aku berjanji mengantarkan rekanku ini ke kosnya. Yup! Kita patungan Taksi dalam rangka mengirit. He he he....

Sesampainya di kamar. Kunci kumasukan. Cklek! Handle diputar. Begitu masuk kamar. Aku terkejut dengan banyak gumpalan-gumpalan hitam kecil di lantai. Kotoran tikus!!! 

...

Setelah mengantarkan temanku tersebut. Aku sampai didepan pintu kamar kosku dengan mengeluh. Fiuh! Still have a lot of things to do. Yup! Akhirnya aku membersihkan setiap sudut kamar dengan sapu. Dan alangkah terkejutnya aku, karena gumpalan hitam itu berserakan lebih banyak di bawah kasur, di balik lemari dan tempat-tempat lain yang tersembunyi. Dan aku tidak menemukan tikusnya. Damn! Pekerjaan menyapu yang sering kuhidari karena aku alergi debu akhirnya harus dijalani. Dan akibatnya, sampai saat ini aku masih flu akibat debu tersebut.

Argh... Kurebahkan badan kurusku ke springbed queen size tanpa sprei yang sudah terlihat agak tua. "Akhirnya selesai. Bisa tidur dengan tenang. Toh tikusnya tidak ada..."

....

Keesokan paginya, ternyata gumpalan itu muncul lagi. Damn! Tikus sial!

Pulang kerja, aku langsung menuju swalayan terdekat untuk membeli lem tikus! Tikus ini harus dibasmi, pikirku.

Sesampainya di kos, selembar karton kusiapkan sebagai alas untuk memasang "perangkap maut", tak lupa aku membeli kacang-kacangan yang menurutku tikus sangat suka sebagai umpan ditengah-tengah perangkap itu. Dan akupun tidur dengan tenang, karena memang yakin perangkap itu akan berhasil.

....

Keesokan paginya. Gatcha!!! Perangkap berpindah tempat. Seekor tikus menggeliat menempel pada karton. Tidak berdaya. Pasrah. Mission accomplished!!!

....

Dalam anekdot ini, aku berpikir, kotoran hadir sebagai jejak. Jejak yang menandakan keberadaan sumbernya yaitu tikus. Walaupun kotoran itu bukan tikus, tapi keberadaan tikus yang dibawa dalam kotoran itu sangat jelas. Jejak itu datang terlebih dahulu, kemudian sumbernya muncul. Hmmm... Mungkin derrida pernah terinspirasi tikus?

...

Keberadaan arsitektur yang selalu menonjolkan keberadaannya semakin menimbulkan kejenuhan. Paham materialisme yang dibawa bangsa barat memperkecil kemungkinan yang tidak ada untuk muncul. Arsitektur bukan hanya tentang yang ada, namun juga tentang yang tidak ada. Tubuh dan nyawa. Masa kini, dan masa bukan kini (masa depan dan masa lalu). Bahkan seorang eisenman sering menggunakan bangunannya yang ada sebagai jejak, sebagai petanda untuk sebuah keberadaan lain yang juga merupakan sebuah petanda.

Hmmm...

Mari membuat jejak...

Selasa, Januari 06, 2009

My Polar Express


Menutup tahun 2008 dilalui oleh beberapa kejadian yang membawaku kedalam semangat baru untuk melalui tahun yang baru. 

[1]
Akhir tahun 2008 ditutup dengan batalnya aku dan teman-temanku untuk meneruskan kompetisi yang sudah kita rintis dari beberapa bulan yang lalu, akibat pengerjaan yang tertunda karena kesibukan di kantor masing-masing sebelum libur, dan tidak relanya melepaskan waktu libur yang sangat berharga untuk berarsitektur. Libur yang sangat dinantikan dari awal tahun untuk menjadi bodoh, untuk berhura-hura, untuk lepas dari tanggungjawab, untuk menikmati hasil kerja keras, untuk bersama orang-orang tersayang, untuk beristirahat. Kejadian yang juga terjadi pada seorang teman di negeri seberang. Jadi mengerti kenapa beberapa rekan di kantorku selalu mati langkah dalam hal kompetisi ketika bertabrakan dengan waktu kerja dan waktu pribadi. Tapi aku tidak menyesalinya.

Kejadian ini membawa pengertian lebih mendalam tentang waktu. Waktu yang selalu berjalan linear. Tak pernah mau berhenti atau balik. Selalu ada rasa syukur dan menyesal ketika membuat pilihan yang didasari waktu.

Arsitektur juga tentang pilihan. Tentang bersyukur dan menyesal. Tentang berjalan melewati waktu. Tentang tanggung jawab, sekaligus tentang kesenangan. 

[2]
Akhir tahun 2008 ditutup dengan batalnya aku memesan buku-buku arsitektur kategori "bintang" pada seorang teman di negeri seberang. Hanya karena sebuah buku yang kubeli di toko buku Toga Mas Jogja. Buku yang mungkin bagi para arsitek-arsitek dunia hanya sekelas "lampu petromax" ini ajaibnya mampu menerangi sekitarnya dengan kehangatan dalam keterbatasan cahaya. Buku berjudul "arsitektur untuk kemanusiaan: sebuah teropong visual culture atas karya-karya eko prawoto"....

Dalam keinginan mengejar bintang, buku tersebut mencuri perhatianku tentang kesederhanaan dari seorang arsitek bernama Eko Prawoto yang notabene murid maestro Romo Mangunwijaya dan Rem Koolhass. 

Mengingatkanku pada perjalanan 2 tahun bersama guru arsitektur pertamaku Pak Pradipto, yang sama seperti Eko Prawoto, adalah juga merupakan murid Romo Mangunwijaya. Karya-karya mereka hampir mirip dalam artikulasi yang sederhana sekaligus tersimpan kekayaan dalam arsitektur yang disebut "kampungan".

Dari buku pak Eko dan dari berguru pada pak Dip aku belajar, bahwa Kreatifitas selalu timbul dari keterbatasan, dan jika kita jeli, masyarakat golongan bawah yang diberi banyak keterbatasan materi ternyata memiliki kekayaan ide yang luar biasa. Seringkali, solusi kreatif sebuah desain bukan dari orang yang berpangkat arsitek, tapi dari tukang, orang yang sangat dekat dengan arsitektur, yang menurut kaum atas digolongkan sebagai orang-orang pinggiran yang hampir tiap hari bergelut pada  keterbatasan.

Arsitektur hadir dalam keterbatasan, bukan keberlimpahan. Arsitektur yang menyangkut seluruh tubuh, alam dan budaya bukan hanya mata. Membentuk 'place' bukan hanya 'space'. Arsitektur yang bernyawa kata seorang teman. 

....


Dari 2 kejadian tersebut, aku belajar banyak soal bersikap dalam arsitektur. 2 kejadian yang bermula dari kata "batal", kata yang negatif. Tapi justru dari kata negatif tersebut, muncul pengetahuan yang positif. Ying dan yang selalu berdamping.

Ada lagi...

Kejadian terakhir adalah saat menonton film "polar express" bersama si orang penting. Terdapat quote yang membekas sampai saat ini. Bikin semangat untuk tetap melangkah. Dan semoga quote ini bermanfaat bagi kalian-kalian yang ragu untuk melangkah...

"... one things about the train. It doesn't matter where they're going, what matter is deciding to get on..."
(The conductor-Polar express)

Selamat Datang 2009...

Rabu, Desember 17, 2008

Ngantuk


Pagi ini, aku terlalu ngantuk untuk menulis. Terlalu ngantuk untuk berarsitektur.

Setelah semalaman harus berjaga demi mengejar deadline. Sekarang yang tersisa hanya ngantuk. Ngantuk menandakan otak ingin istirahat. Badan ingin istirahat.

~_~

Hoaahmm...

Dipaksa bagaimanapun. Otak ini tidak terputar untuk mengeluarkan ide...

Kosong...

Void...

Karena otak sedang kosong, void, istirahat dari arsitektur, di otakku muncul si orang penting, muncul rencana liburan, orang tua, kampung halaman dll, yang datang sekelebat, seperti sedang memberi tahu, bahwa kehidupanku bukan cuma di arsitektur, bahwa ada hal lain yang layak disejajarkan untuk dipikirkan.

Ketika otak sedang kosong, void, timbul pemaknaan baru akan hidupku sendiri.

Luar biasa si void ini. Kalau tidak ada dia, pasti otakku sudah meledak karena terforsir hanya untuk satu hal. Arsitektur.

Aku bersyukur bisa ngantuk...

Mari tidur sejenak dari arsitektur....

Selamat libur akhir tahun....

P.S. :Semoga dalam libur 2 minggu ke depan aku bisa nulis sesuatu...

Senin, Desember 15, 2008

Dosa

Minggu pagi...
Langit masih bergayut mendung, menampakkan wajah suram. Angin dingin yang membelai kulitku semakin memanjakan tidurku. Alarm yang kuset 06.30 sukses diacuhkan. Ya. Pagi ini aku berencana untuk ke gereja mengikuti misa pagi. Gereja kathedral "Roh Kudus" denpasar yang hanya berjarak 30 meter dari pintu kos-kosan yang berarti 'sangat dekat', semakin membuatku malas untuk bangun pagi. Akhirnya aku terbangun jam 08.50, 10 menit menuju misa kedua pagi ini. Dengan persiapan seadanya akhirnya aku berhasil mengikuti misa walaupun dengan setengah ngantuk, setelah hampir 3 minggu tidak ke gereja akibat tumbukan bertubi-tubi dari deadline yang mengakibatkan aku hampir tidak memiliki waktu pribadi.

...

Aku merasa berdosa, menempatkan kerjaan di atas Tuhan. Aku jadi berpikir, apakah menjadi arsitek akan selalu berdekatan dengan dosa? Berapa waktu yang dicurahkan untuk kerjaan dibanding untuk Tuhan?

...

[arsitek vs dosa]

"Mendesain berarti membuat dosa" Begitu kata seorang rekan. Ada benarnya menurutku, karena dalam satu tarikan pensil di atas kertas, seorang arsitek memikul tanggung jawab kepercayaan, keselamatan, dan kenyamanan beberapa (atau banyak) manusia. Human error tak mungkin dihindari, ada resiko arsitek melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian orang lain, yang bahkan mengakibatkan kehilangan nyawa. 

"Dengan pengalaman kita meminimalkan dosa yang kita buat." tutur sang rekan lagi. Memang, bersentuhan dengan tanggung jawab memiliki potensi untuk berbuat kesalahan, berbuat dosa. Kesalahan muncul karena pengalaman yang kurang dalam memetakan masalah. Karena itu slogan "life begins at 40" terasa sangat pas untuk arsitek. Umur dimana pengalaman dapat meminimalkan dosa

...

[Arsitektur vs dosa]

Arsitektur, sepanjang umur hidupnya juga tak luput dari dosa. Terkadang arsitektur sengaja tampil sebagai dosa untuk menggugah kemapanan yang terlanjur 'suci'. Le corbu, dosa atau suci? Minimalis, dosa atau suci? Dekonstruksi, dosa atau suci? Robinhood, dosa atau suci?

Dosa adalah void. Kekosongan yang diberikan sang arsitek untuk diisi dengan makna baru. Jika kosong adalah isi dan isi adalah kosong, apakah dosa arsitektur bisa menjadi arsitektur yang suci?

...

Pada akhirnya dosa menjadi sebuah arena pembelajaran untuk berarsitektur lebih baik, untuk menjadi manusia yang lebih baik, untuk dunia yang lebih baik.

Selamat Natal dan selamat berdosa...

Jumat, Desember 12, 2008

Overture 2008: regression


...
bukankah hidup ada penghentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya
...
(sang penghibur-padi band)

agustus 2007....
Seorang calon sarjana baru melangkahkan kaki ke podium kehormatan di GSP UGM. Kebanggaan yang tersirat di wajahnya semakin disempurnakan ketika tali yang dibebani masa depan di atas topi dipindahkan, dan mendapatkan ijazah biru yang memuat pengakuan.

Kaki harus dilangkahkan...

september 2007...
Seorang sarjana baru mulai menjejakkan kakinya di ranah arsitektur. Kaki yang masih berdebu, belum dilindungi oleh sandal merek berkelas. Hanya sebuah keyakinan dan idealisme yang memberikan kepercayaan diri untuk berlayar di lautannya. Bekerja dalam kechaosan dan kekerasan dunia arsitektur kelas bawah. Membenturkan ide dalam kenyataan yang sangat membatasi, uang. Bermain dengan material yang sangat dekat dengan alam, kayu.

Kaki harus dilangkahkan...

maret 2008...
Seorang arsitek muda menjejakkan kakinya di tanah bali untuk mencari dirinya. Merasa sudah tahu banyak untuk mengetahui lebih banyak lagi. Terdampar di sebuah rumah di balik semak. Belajar bersetubuh dengan alam, menjilat lokalitas, bersenyawa dengan dna. Terkadang idealisme yang dibawa terbentur dalam desain. Perpustakaan kantor menjadi oase yang menyejukkan menggembirakan sebagai seorang yang haus akan keajaiban dunia luar. Mata lebih terbuka. Keinginan untuk mencari jati diri semakin berkobar dengan mempelajari jati diri orang lain, arsitek lain. Berbagai star architect dilirik untuk sekedar menyelami pemikirannya dan mencari inspirasi. Menggantung target untuk meledak.

Kaki tetap melangkah...

Penghujung 2008
Seorang arsitek yang merasa sudah belajar banyak bertemu dengan teman-teman di luar sana lewat dunia maya. Berbagi gossip, pengetahuan dan mimpi. Ilmu yang terlihat luas, semakin terlihat tak terbatas. Ilmu yang sudah dipelajari semakin terlihat sedikit. Menjadi bodoh. Flashback ke masa kuliah. Mencaritahu apa saja yang sudah dipelajari, ternyata nihil! Tidak pernah belajar selain di ruang kelas, yang itupun datang terlambat, tidur dan tidak memperhatikan. Lulus hanya dengan otak bermuatan kosong. Berkarya dengan sok idealis. Tertinggal dalam banyak hal.

Si arsitek itu sekarang, merasa saatnya untuk berhenti....

Si arsitek itu sekarang, merasa saatnya untuk mundur....

Tidak, bukan berhenti dan mundur dari dunia arsitektur. Bukan berhenti seperti saat spiderman yang ingin kehidupan normal seperti istilah dari blog seorang rekan. Si arsitek masih mencintai dunia ini, keteraturan dan kechaosannya.

Dia hanya ingin menempatkan dirinya kembali ke belakang. Menjadi mahasiswa arsitektur. Menjadi orang yang haus ilmu. Mengosongkan ruang otak untuk diisi banyak hal. Berhenti untuk berlari.

Seperti dalam arsitektur, ada ruang positif ada ruang negatif. Yin dan Yang. Isi dan kosong. Solid dan void. Ketika keduanya disandingkan akan menjadi harmoni yang maha dahsyat.

Mundur untuk maju....
Regression for an aggression....