Tampilkan postingan dengan label arsitekturku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitekturku. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 06, 2010

Anti Object-preread thought

Seorang teman baik mengirimkan sebuah buku yang kupesan sudah dari jauh hari. Dia seorang reviewer buku yang sangat kupercaya, dan menurutnya, buku ini cocok untukku. Buku itu sampai di tanganku hari ini.Buku bersampul biru,sangat simple, namun terlihat berbobot. Buku itu berjudul Anti-Object yang ditulis oleh Kengo Kuma, seorang arsitek 'selebritis' dari jepang, Sengaja buku itu belum kubuka satupun lembaran didalamnya, tak ada deretan huruf yang kunikmati, dan tak satupun dogma (asumsiku) yang jadi racun pikiranku. Buku itu hanya kupandangi sampulnya.
...Anti-Object...

Pastilah seorang Kengo Kuma punya maksud dibalik dua kata itu. Berbagai pertanyaan berlalu-lalang di kepalaku, menggelitik, menghibur bahkan menusuk. Apa itu anti objek, apa yang jadi objek, dan mengapa harus anti. Jika buku ini merupakan sebuah kritik arsitektur, berarti objeknya adalah arsitektur. Namun, pastinya sepanjang hayat arsitektur adalah objek, bagaimana mungkin kita arsitek bisa anti kepadanya.

...aku manusia, aku punya badan, aku tidak mungkin hidup kalau aku anti terhadap badanku...

Tidak mungkin seorang Kengo Kuma begitu bodoh untuk melontarkan dua kata itu, yang pastinya kalau dengan pemikiranku tadi malah akan berbalik menyerang karyanya sendiri. Kucoba mengingat pelajaran di jaman sekolah, Bahasa Indonesia, tentang struktur kalimat. Kebetulan ibuku seorang guru Bahasa Indonesia. Seharusnya aku cukup pintar untuk menganalisa melalui struktur kalimat. Melihat kata objek, tentu yang terkait adalah tentang SPOK, hukum dari penyusunan kalimat bahasa Indonesia.

...Subjek Predikat Objek Keterangan...

Kalau dengan analogi ini berarti mungkin saja untuk anti objek. Dalam konteks Arsitektur dan Alam, siapa menjadi subjek dan siapa menjadi objek adalah permasalahannya. Arsitektur saat ini kebanyakan ingin menjadi yang paling menonjol, paling unik, sang penguasa alam, menegasi alam. Mungkin pesan dari seorang Kengo Kuma dalam konsepsi Anti-Object ini adalah mengenai menjadi subjek yang secara positif membangun objek, bukan tentang menghancurkan tubuh objek.

Bukan lagi
Alam melayani Arsitektur
Alam memberi Arsitektur
Alam melihat Arsitektur
Alam sebelum Arsitektur

Tapi sebaliknya
Arsitektur melayani Alam
Arsitektur memberi Alam
Arsitektur melihat Alam
Arsitektur sebelum Alam

Mungkin aku berpikir terlalu banyak bahkan sok tahu sebelum membaca bukunya. Tapi menurutku memiliki pemikiran awal sebelum membaca buku tentu sangat berguna, karena akan tercipta interaksi pemikiran ketika mulai menikmati tulisan di dalamnya. Akan terjadi percikan-percikan dari benturan ide yang membawa ke pemikiran baru. Setelah membaca buku aku akan kembali menulis percikan2 yang terjadi, dan pemikiran hybrid yang keluar setelahnya.

....

Di kiriku tergeletak buku anti-object di kananku teronggok beberapa cube, timer dan blindfold, dua dunia yang berbeda. Tulisan ini kutulis sebagai welcome drink untukku sendiri untuk mulai kembali menyetubuhi arsitektur dalam kata dan dalam karya untuk menggenapi resolusiku di tahun yang baru.

Sudah saatnya kita memberi, sudah saatnya kita melayani dalam arsitektur. Di tahun yang baru.

Happy New Year 2010....

Rabu, April 01, 2009

Yang Ideal Hanya Relativitas

Seorang teman berkisah tentang arsitektur yang asli. Arsitektur di luar kertas bercoretkan tinta. Di luar kosmetik penghias rupa. Di luar prosedur. Di luar trend. Di luar plagiatisme. Di luar majalah arsitektur populer. Di luar otoritas keping-keping emas. Di luar ketenaran. Hanya untuk mempertanyakan identitas arsitektur yang sebenarnya. Pertanyaan yang timbul ketika berbentur dengan realitas. Tulisan yang mengingatkanku untuk menuliskan tentang arsitektur ideal. Gelitikan yang sempat singgah di otakku namun akhirnya hanya ditumpuk di sudut sana, menanti untuk dituangkan...

...

Aku orang desa. Berpikir juga ala orang desa. Ndeso kalo istilah orang jawa. Hampir tiap hari aku mengakrabi pohon-pohon tinggi di lingkungan rumahku. Setiap rumah punya 'kebun' yang kira-kira 3 kali lipat luasan rumahnya sendiri. Sesuatu yang nantinya kulihat sebagai kemewahan.

Bersepeda mengelilingi lingkungan hampir kulakukan setiap sore. Hijau selalu menjadi warna yang dominan. Setiap orang yang kutemui kuusahakan untuk menyapa dengan senyum. Ada yang tidur di teras dengan sangat pulas, bisa kubayangkan enaknya tidur diiringi semilir angin dan suara burung yang seakan menina bobokanku. Ada yang sedang menanam bunga yang baru saja di dapat di hutan, bunga indah yang mungkin di luar sana diperdagangkan dengan rupiah yang tidak sedikit. Ada teman-temanku yang sedang bermain bola di halaman di depan rumahnya. Keriangan mereka menendang bola seakan tertular kepadaku. Akupun tidak bisa menolak untuk mampir sekedar ikut menendang bola dan meriuhkan suasana dengan tawa dan canda.

Bersepeda kembali ke rumah dengan peluh membuatku semakin mengencangkan kayuhan sepedaku agar angin masuk ke dalam bajuku menyapu peluh-peluh itu untuk pergi dan menggantikannya dengan kesejukan.

Masa lalu mengajarkan aku tentang nikmatnya mengalami ruang. Bagaimana mengajarkan aku untuk menghargai arsitektur bukan hanya sebagai batas (boundary) berbentuk ruang (space) tapi sebagai sebuah tempat (place). Kalau ada orang pintar di luar sana mengatakan architecture is the art of space, aku lebih suka mengatakan architecture is the art of place.

Dalam pengalaman ruangku aku belajar. Sebuah pesan tertangkap dalam memoriku tentang ruang. Pesan yang akan kusampaikan kembali dalam arsitekturku. Arsitektur merupakan kertas putih berisi cerpen dengan bahasa ruang yang membangkitkan imajinasi dan emosi.

Arsitektur identik dengan building, namun bagiku, arsitektur itu tetap sebuah ruang dan tempat, apapun bentuknya entah itu building, interior, lansekap, artwork, manusia, dengan tujuan yang sama, untuk dunia yang lebih baik.

Mungkin terlihat terlalu naif di tengah gencarnya publikasi para superhero arsitek, di tengah terbangunnya bangunan supercanggih, di tengah konsep yang njelimet berdasarkan filosofi tingkat tinggi, di tengah bertebarnya keping-keping emas untuk bangunan yang memuaskan para manusia awan. Bahkan terlalu naif di tengah deadline superketat dari kantor.

Entahlah, aku hanya berpikir cara orang desa menikmati ruang. Cara orang desa bersahabat dengan alam dan bangunan. Cara orang desa menciptakan tempat (place) dari ruang mereka.

Hmmm....

Jadi, apa arsitektur bagi ideal anda?

Sabtu, Februari 07, 2009

Smile!


Jumat, 22:00 WITA
Lokasi : Kamar kos

Tak terasa satu hari lagi dari perjalanan panjangku untuk menjadi orang baik berhasil kulalui. Kuletakkan tasku di sudut kamarku, tempat biasanya dia kuletakkan. Kurebahkan badanku di kasurku yang sudah terlihat usang. Pembicaraan terakhir dengan beberapa rekan yang menutup rutinitas kerja hari ini adalah seputar Adi Purnomo dan Romo Mangun. Tentang kecerdasan mereka menggauli material. Kemampuan yang hanya bisa didapat dari pengalaman yang matang dan jam terbang yang tinggi, itu menurutku. Kedekatan mereka dengan material yang tidak hanya berupa tarikan garis dan tulisan di atas kertas. Kedekatan dengan pelaksana pembangunan yaitu para tukang, dan membuat desain yang memanusiakan mereka.

Masih dalam lamunanku malam ini, tiba-tiba terlintas masa-masa dimana aku berguru dengan salah satu murid romo Mangun yaitu Pak Pradipto. Beberapa kali aku diajak untuk mengunjungi proyeknya, yang sedang dalam tahap konstruksi ataupun yang sudah terbangun. Dari beberapakali kunjungan tersebut, ada 2 proyek yang membuatku sangat terkesan sampai saat ini, rumah seorang wanita ekspatriat jerman dan rumah seorang seniman yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi di dunia seni nasional maupun internasional.

...

Pada saat mengunjungi rumah pertama, kami langsung disuguhi keramahtamahan ala manusia eropa. Rumah yang tidak begitu besar, hanya terdiri dari 2 lantai berisi 3 kamar tidur, ruang kerja, dapur dan ruang tamu. Yang luar biasa hanyalah material yang digunakan seluruhnya dari kayu dan atap dari alang-alang. Tak ada kesombongan dalam desain, yang ada hanyalah kesederhanaan dan kebauran dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Keteduhan dalam naungan atap dan vegetasi menyatu dalam obrolan-obrolan ringan diiringi beberapa teguk coklat hangat dan potongan biskuit.

...

Demikian juga rumah kedua, rumah dengan keterbukaan, dan tidak terlalu besar. Sesuai dengan pernyataan seorang Adi Purnomo, seberapa cukup adalah cukup. Kami diterima di ruang tamunya yang terbuka. Kebebasan jiwa dan kesahajaan seorang seniman tercermin di dalam ruang tamu yang tidak terlalu besar ini. Tak ada formalitas. Yang ada hanya kejujuran.

...

Bukan soal desain, atau bukan juga soal konsep yang membuatku teringat akan kedua desain itu. Aku hanya teringat akan senyum kedua pemilik rumah itu.

Ya. Senyum.

Senyum kebanggaan akan tempat tinggal mereka walaupun bukan istana termewah. Senyum yang mencerminkan kenyamanan walaupun rumahnya tak luput dari kekurangan desain. Senyum kekayaan walaupun kulit ketiganya hanya terbangun dari keterbatasan dana. Senyum kepuasan walaupun rumahnya tak pernah diekspos dan digembar-gemborkan di depan publik.

Masterpiece yang tercipta dari dialog, bukan hanya ego arsitek. Karya agung yang terpatri dalam hati arsitek dan klien.

Seperti pentingnya senyum si orang penting,  begitu juga pentingnya senyum dalam arsitektur bagiku.

Hmmm....

Arsitektur untuk senyum, mungkin itulah yang harus kukejar...

Selasa, Februari 03, 2009

Love Complex


Dari sejak saat itu, sejak saat aku tidak lagi bersama dia. Hari-hari kulalui dengan datar, bahkan cenderung hampa. Walaupun aku sedang bersama 'dia yang baru' mengisi hari-hariku.

Awal tahun ketika aku diperkenalkan kepada 'dia yang baru', aku merasa senang. 'Dia yang baru' seakan mulai mengisi sudut pikiranku yang tak bisa diisi oleh 'dia yang lama'. Hari demi hari kulalui bersamanya. 'Dia yang lama' benar-benar kuacuhkan. Entah dia merasa sedih atau tidak.

Namun perlahan, kebahagiaan dari 'dia yang baru' terasa semakin semu. Aku mulai merindukan 'dia yang lama'. Walaupun 'dia yang lama' tak sempurna, namun aku tahu dialah yang terbaik untukku.

Semakin lama, kebahagiaan semu itu semakin membusuk. Tak ada hari yang kulalui tanpa kegelisahan dan ketidaknyamanan. Aku harus bisa melepas 'dia yang baru'. Aku ingin kembali pada 'dia yang lama'.

Terlalu banyak kemunafikan pada 'dia yang baru'. Mungkin hanya perasaanku. Aku tertipu oleh rupanya yang cantik. Aku percaya, banyak yang lebih pantas untuk 'dia yang baru'.

Bayangan 'dia yang lama' terus menggangguku. Memori demi memori terlukis kembali, melayangkan nyawaku dari tubuhku yang sedang bersama 'dia yang baru'.

...

Awal bulan ini, akhirnya aku berkesempatan untuk bertemu 'dia yang lama'. Kesempatan emas yang tak akan kubuang untuk memintanya kembali padaku. 'Dia yang baru' kuacuhkan, entah dia sadar atau tidak.

Gayung bersambut, 'dia yang lama' juga membutuhkanku. Semangat itu datang kembali. Semangat yang sempat hilang. Hari-hari kedepan aku akan tambah semangat menghadapi hariku. Karena aku sudah ada 'dia yang lama' di sampingku.

Selamat tinggal kerjaan interior

Selamat datang kerjaan landscape

...

:-)

Jumat, Januari 23, 2009

Cheers...!!!

Pagi hari, setelah aku siap untuk berangkat kerja, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sebuah buku yang belum pernah kusentuh sejak berada di dalam rak bukuku. Kuraih buku itu, kemudian kubuka beberapa lembar pertama, sampai kepada sebuah halaman...

Dear mr. Arief
May your time with BDS be happy, healthy and fun
cheers
Bill Bensley

Begitu kata-kata mutiara dari pak Bill saat aku meminta tandatangannya di buku barunya "Paradise by Design", sebuah buku portofolio yang berisi masterpiece dari sang master landscape yang kebetulan juga sebagai mahaguru di kantorku ini. Kata-kata sederhana yang membentuk perspektif baru bagiku dalam memandang arsitektur, bahkan dalam memandang hidupku yang sarat ketidakpastian dan kesementaraan.

Happy. Untuk kebahagiaan dalam mendesain. Untuk keoptimisan. Untuk semangat

Healthy. Untuk keseimbangan antara tubuh dan otak. Untuk mengeluarkan seluruh potensi dengan maksimal.

Fun. Untuk bermain dengan imajinasi. Untuk bersenang-senang. Untuk kekompakan dalam tim.

Sinergi ketiganya menghasilkan aura positif yang baik secara sadar maupun tidak tertular dalam desain. Yang membangkitkan aura positif penikmat ruang melalui pesan transeden dalam desain.

It's just the way to make a better place.

...

Membongkar kembali folder-folder kerjaanku di kantor. Untuk mencari jejak aura positif dalam desainku. Akhirnya aku menemukan satu sketsa waterspout sculpture di sebuah project spa di nusa dua. Desain sederhana. Hanya sebuah sculpture kepala dengan waterspout dari mulut.

Hanya ingin berbagi aura positif kepada penikmat ruang. Berdialog dengan subjek arsitektur dalam kejenakaan. Dalam penghiburan. Dalam sebuah pesan...

Cheers....

Jumat, Januari 16, 2009

Trinity


Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengatakan sebuah kalimat yang sampai saat ini terngiang di kepalaku.

"Itu kan urusan arsitek! Kita urusin interior aja!"

Ya. Memang saat itu aku sedang mengerjakan project dalam koridor desain interior untuk sebuah project di mumbai. Kalimat tersebut memang tidak salah dalam sebuah koridor profesionalitas, namun bagiku kalimat tersebut terasa begitu mengganjal. Mengapa terjadi pengkotakan dalam arsitektur. Menurutku, entah itu desain lansekap, bangunan ataupun interior, mereka berada dalam satu kaki menjejak di tanah yang sama. Tiga-tiganya tidak terpisah. Trinity, tiga dalam satu, begitu kata seorang rekan.

Namun sering terjadi seorang arsitek begitu gusar saat desainnya di'seruduk' desainer interior supaya desainnya masuk. Demikian juga sebaliknya. Sebuah project menjadi mendan perang bagi ketiganya. Saling beradu ego. Ingin terlihat paling menonjol.

Ego kerapkali mengaburkan idealisme....

Kalau arsitektur bertujuan untuk hidup yang lebih baik, seharusnya ketiganya berpegangan tangan, berdialog, bersinergi dalam satu nyawa, saling melengkapi.

Sebuah hal yang realistis ataukah utopis?

Mari berpegangan tangan...

Bahasa Hujan

Kebun Sanur, 19:30 WITA
Keheningan kantor bersama dinginnya udara malam ini semakin membuatku malas untuk beranjak dari kursi kantor. Sebagian besar rekan kantorku sudah keluar untuk makan dan pulang. Di ruang gajah tinggal aku dan seorang senior. Mungkin beberapa saat lagi saat kemalasan mulai berkurang dan perut mulai keroncongan kita akan mengikuti rekan yang lain untuk beranjak meninggalkan kantor ini menuju ruang transisi dengan udara dinginnya. 

Ya. Ruang transisi. Begitu aku menyebut ruang di antara kantor dan kos-kosanku. Karena setiap hari, ruang itu hanya menjadi ruang yang mengantarkan aku ke kantor. Ruang antara yang sangat dinamis, kadang ramai, kadang sepi, kadang gelap, kadang terang, kadang panas, kadang dingin. Sangat relatif. Dan malam ini ruang transisi sedang dalam status dingin.

...

Beberapa hari belakangan, sepertinya langit tidak begitu ramah pada bumi dan manusia. Tak ada hari yang absen dari guyuran hujan yang ditumpahkan dari langit. Ya. Bukan lagi mengucur, tapi tumpah! Daerah renon yang menurutku cukup aman dari banjir saja bisa tergenang air setinggi 50 sentian. Bahkan ada seorang teman yang libur karena kantornya ikut tergenang!

Setiap hari, hanya bisa merinding ketika melihat melihat ke luar kaca jendela dari dalam kantor. Merinding membayangkan rasanya berada di luar sana. Hujan deras disertai angin yang cukup kuat untuk menggoyangkan sebatang pohon yang selama ini terlihat begitu tegar. Mungkin langit memang sedang kesal pada manusia yang mulai tidak menghargai alam.

Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan klasik (menurutku) yang selalu menjadi bahan cercaan dosen ketika setiap akhir semester seorang mahasiswa mempresentasikan desainnya.

"Ini kalo mau kesini pas hujan bagaimana? Gak ada atapnya gini"

Dulu aku hanya bisa garuk-garuk kepala dengan tersenyum pahit. Jawaban yang menurutku cukup masuk akal saat ini adalah:

"Ya basah pak"

Ya...

Basah...

Alam hadir lebih dahulu daripada manusia. Hujan yang merupakan karya agung dari langit, dapat dijadikan teman atau lawan. Ada saatnya kita diam hanya untuk menikmati karya agung dari langit tersebut. 

Alam merupakan sumber pengalaman yang luar biasa yang selalu berusaha menyapa anak-anaknya. Ada saatnya bersentuhan dengan air, berlari melewatinya dengan payung, atau sengaja menerobos dengan kepala basah menghasilkan sebuah pengalaman yang berbeda daripada melewatinya dengan lantai dan atap yang nyaman. Terdapat kejujuran dan kenaifan dalam pengalaman itu. Ada yang tertawa setelah menerobos hujan karena dalam beberapa langkah lari tersebut alam menyentuh memori masa anak-anaknya.

Hanya sebuah justifikasi yang relatif.

Lebih banyak alasan menurut ego manusia untuk menyangkalnya.

Tapi satu yang kupegang, bahwa alam ingin menyentuh kita semua dalam berbagai cara. Tergantung kesensitifan sang arsitek untuk menerjemahkan bahasa alam tersebut sebagai teman dalam desain. Agar sentuhan tersebut sampai kepada penikmat arsitektur.

Seperti kata Pak Joseph Prijotomo " Arsitektur nusantara adalah rumah di dalam kebun. Bukan kebun di dalam rumah"

Kebun Sanur, 20:00 WITA
Kantor telah sepi. Tinggal aku sendiri, rekan yang tadi menemani sudah pulang lebih dulu. Mungkin sudah saatnya aku juga ikut beranjak untuk menikmati ruang transisi di luar sana yang pastinya masih dingin. Menyapa alam, menyelami bahasanya....

Sabtu, Januari 10, 2009

The Rat Chronicle


Yang pernah berkuliah di arsitektur pasti pernah merasa terusik mendengar nama derrida. Siapa orang ini, sehingga panggung arsitektur dunia tergoncang. Kemapanan, kestabilan bergerak menuju ketidakstabilan. Requestioning terjadi dimana-mana. Pengetahuan yang dibangun dalam hitungan puluhan tahun, runtuh.

Tentang petanda dan penanda...

Tentang jejak yang muncul lebih dahulu daripada keberadaan...

Aku tidak akan membahas lebih lanjut, karena, banyak yang lebih pakar dalam hal ini. Kelebatan kata-kata tadi muncul karena sebuah drama yang baru saja terjadi. Sebuah anekdot barangkali. Kisahnya seperti ini....

Januari awal...
Aku membuka pintu taksi bersama seorang rekan dari bandara ngurah rai. Dengan barang beberapa pikul kita menuju kamar kosku. Aku hendak mengambil motorku, karena aku berjanji mengantarkan rekanku ini ke kosnya. Yup! Kita patungan Taksi dalam rangka mengirit. He he he....

Sesampainya di kamar. Kunci kumasukan. Cklek! Handle diputar. Begitu masuk kamar. Aku terkejut dengan banyak gumpalan-gumpalan hitam kecil di lantai. Kotoran tikus!!! 

...

Setelah mengantarkan temanku tersebut. Aku sampai didepan pintu kamar kosku dengan mengeluh. Fiuh! Still have a lot of things to do. Yup! Akhirnya aku membersihkan setiap sudut kamar dengan sapu. Dan alangkah terkejutnya aku, karena gumpalan hitam itu berserakan lebih banyak di bawah kasur, di balik lemari dan tempat-tempat lain yang tersembunyi. Dan aku tidak menemukan tikusnya. Damn! Pekerjaan menyapu yang sering kuhidari karena aku alergi debu akhirnya harus dijalani. Dan akibatnya, sampai saat ini aku masih flu akibat debu tersebut.

Argh... Kurebahkan badan kurusku ke springbed queen size tanpa sprei yang sudah terlihat agak tua. "Akhirnya selesai. Bisa tidur dengan tenang. Toh tikusnya tidak ada..."

....

Keesokan paginya, ternyata gumpalan itu muncul lagi. Damn! Tikus sial!

Pulang kerja, aku langsung menuju swalayan terdekat untuk membeli lem tikus! Tikus ini harus dibasmi, pikirku.

Sesampainya di kos, selembar karton kusiapkan sebagai alas untuk memasang "perangkap maut", tak lupa aku membeli kacang-kacangan yang menurutku tikus sangat suka sebagai umpan ditengah-tengah perangkap itu. Dan akupun tidur dengan tenang, karena memang yakin perangkap itu akan berhasil.

....

Keesokan paginya. Gatcha!!! Perangkap berpindah tempat. Seekor tikus menggeliat menempel pada karton. Tidak berdaya. Pasrah. Mission accomplished!!!

....

Dalam anekdot ini, aku berpikir, kotoran hadir sebagai jejak. Jejak yang menandakan keberadaan sumbernya yaitu tikus. Walaupun kotoran itu bukan tikus, tapi keberadaan tikus yang dibawa dalam kotoran itu sangat jelas. Jejak itu datang terlebih dahulu, kemudian sumbernya muncul. Hmmm... Mungkin derrida pernah terinspirasi tikus?

...

Keberadaan arsitektur yang selalu menonjolkan keberadaannya semakin menimbulkan kejenuhan. Paham materialisme yang dibawa bangsa barat memperkecil kemungkinan yang tidak ada untuk muncul. Arsitektur bukan hanya tentang yang ada, namun juga tentang yang tidak ada. Tubuh dan nyawa. Masa kini, dan masa bukan kini (masa depan dan masa lalu). Bahkan seorang eisenman sering menggunakan bangunannya yang ada sebagai jejak, sebagai petanda untuk sebuah keberadaan lain yang juga merupakan sebuah petanda.

Hmmm...

Mari membuat jejak...

Selasa, Januari 06, 2009

My Polar Express


Menutup tahun 2008 dilalui oleh beberapa kejadian yang membawaku kedalam semangat baru untuk melalui tahun yang baru. 

[1]
Akhir tahun 2008 ditutup dengan batalnya aku dan teman-temanku untuk meneruskan kompetisi yang sudah kita rintis dari beberapa bulan yang lalu, akibat pengerjaan yang tertunda karena kesibukan di kantor masing-masing sebelum libur, dan tidak relanya melepaskan waktu libur yang sangat berharga untuk berarsitektur. Libur yang sangat dinantikan dari awal tahun untuk menjadi bodoh, untuk berhura-hura, untuk lepas dari tanggungjawab, untuk menikmati hasil kerja keras, untuk bersama orang-orang tersayang, untuk beristirahat. Kejadian yang juga terjadi pada seorang teman di negeri seberang. Jadi mengerti kenapa beberapa rekan di kantorku selalu mati langkah dalam hal kompetisi ketika bertabrakan dengan waktu kerja dan waktu pribadi. Tapi aku tidak menyesalinya.

Kejadian ini membawa pengertian lebih mendalam tentang waktu. Waktu yang selalu berjalan linear. Tak pernah mau berhenti atau balik. Selalu ada rasa syukur dan menyesal ketika membuat pilihan yang didasari waktu.

Arsitektur juga tentang pilihan. Tentang bersyukur dan menyesal. Tentang berjalan melewati waktu. Tentang tanggung jawab, sekaligus tentang kesenangan. 

[2]
Akhir tahun 2008 ditutup dengan batalnya aku memesan buku-buku arsitektur kategori "bintang" pada seorang teman di negeri seberang. Hanya karena sebuah buku yang kubeli di toko buku Toga Mas Jogja. Buku yang mungkin bagi para arsitek-arsitek dunia hanya sekelas "lampu petromax" ini ajaibnya mampu menerangi sekitarnya dengan kehangatan dalam keterbatasan cahaya. Buku berjudul "arsitektur untuk kemanusiaan: sebuah teropong visual culture atas karya-karya eko prawoto"....

Dalam keinginan mengejar bintang, buku tersebut mencuri perhatianku tentang kesederhanaan dari seorang arsitek bernama Eko Prawoto yang notabene murid maestro Romo Mangunwijaya dan Rem Koolhass. 

Mengingatkanku pada perjalanan 2 tahun bersama guru arsitektur pertamaku Pak Pradipto, yang sama seperti Eko Prawoto, adalah juga merupakan murid Romo Mangunwijaya. Karya-karya mereka hampir mirip dalam artikulasi yang sederhana sekaligus tersimpan kekayaan dalam arsitektur yang disebut "kampungan".

Dari buku pak Eko dan dari berguru pada pak Dip aku belajar, bahwa Kreatifitas selalu timbul dari keterbatasan, dan jika kita jeli, masyarakat golongan bawah yang diberi banyak keterbatasan materi ternyata memiliki kekayaan ide yang luar biasa. Seringkali, solusi kreatif sebuah desain bukan dari orang yang berpangkat arsitek, tapi dari tukang, orang yang sangat dekat dengan arsitektur, yang menurut kaum atas digolongkan sebagai orang-orang pinggiran yang hampir tiap hari bergelut pada  keterbatasan.

Arsitektur hadir dalam keterbatasan, bukan keberlimpahan. Arsitektur yang menyangkut seluruh tubuh, alam dan budaya bukan hanya mata. Membentuk 'place' bukan hanya 'space'. Arsitektur yang bernyawa kata seorang teman. 

....


Dari 2 kejadian tersebut, aku belajar banyak soal bersikap dalam arsitektur. 2 kejadian yang bermula dari kata "batal", kata yang negatif. Tapi justru dari kata negatif tersebut, muncul pengetahuan yang positif. Ying dan yang selalu berdamping.

Ada lagi...

Kejadian terakhir adalah saat menonton film "polar express" bersama si orang penting. Terdapat quote yang membekas sampai saat ini. Bikin semangat untuk tetap melangkah. Dan semoga quote ini bermanfaat bagi kalian-kalian yang ragu untuk melangkah...

"... one things about the train. It doesn't matter where they're going, what matter is deciding to get on..."
(The conductor-Polar express)

Selamat Datang 2009...

Senin, Desember 15, 2008

Dosa

Minggu pagi...
Langit masih bergayut mendung, menampakkan wajah suram. Angin dingin yang membelai kulitku semakin memanjakan tidurku. Alarm yang kuset 06.30 sukses diacuhkan. Ya. Pagi ini aku berencana untuk ke gereja mengikuti misa pagi. Gereja kathedral "Roh Kudus" denpasar yang hanya berjarak 30 meter dari pintu kos-kosan yang berarti 'sangat dekat', semakin membuatku malas untuk bangun pagi. Akhirnya aku terbangun jam 08.50, 10 menit menuju misa kedua pagi ini. Dengan persiapan seadanya akhirnya aku berhasil mengikuti misa walaupun dengan setengah ngantuk, setelah hampir 3 minggu tidak ke gereja akibat tumbukan bertubi-tubi dari deadline yang mengakibatkan aku hampir tidak memiliki waktu pribadi.

...

Aku merasa berdosa, menempatkan kerjaan di atas Tuhan. Aku jadi berpikir, apakah menjadi arsitek akan selalu berdekatan dengan dosa? Berapa waktu yang dicurahkan untuk kerjaan dibanding untuk Tuhan?

...

[arsitek vs dosa]

"Mendesain berarti membuat dosa" Begitu kata seorang rekan. Ada benarnya menurutku, karena dalam satu tarikan pensil di atas kertas, seorang arsitek memikul tanggung jawab kepercayaan, keselamatan, dan kenyamanan beberapa (atau banyak) manusia. Human error tak mungkin dihindari, ada resiko arsitek melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian orang lain, yang bahkan mengakibatkan kehilangan nyawa. 

"Dengan pengalaman kita meminimalkan dosa yang kita buat." tutur sang rekan lagi. Memang, bersentuhan dengan tanggung jawab memiliki potensi untuk berbuat kesalahan, berbuat dosa. Kesalahan muncul karena pengalaman yang kurang dalam memetakan masalah. Karena itu slogan "life begins at 40" terasa sangat pas untuk arsitek. Umur dimana pengalaman dapat meminimalkan dosa

...

[Arsitektur vs dosa]

Arsitektur, sepanjang umur hidupnya juga tak luput dari dosa. Terkadang arsitektur sengaja tampil sebagai dosa untuk menggugah kemapanan yang terlanjur 'suci'. Le corbu, dosa atau suci? Minimalis, dosa atau suci? Dekonstruksi, dosa atau suci? Robinhood, dosa atau suci?

Dosa adalah void. Kekosongan yang diberikan sang arsitek untuk diisi dengan makna baru. Jika kosong adalah isi dan isi adalah kosong, apakah dosa arsitektur bisa menjadi arsitektur yang suci?

...

Pada akhirnya dosa menjadi sebuah arena pembelajaran untuk berarsitektur lebih baik, untuk menjadi manusia yang lebih baik, untuk dunia yang lebih baik.

Selamat Natal dan selamat berdosa...

Rabu, Desember 03, 2008

Void....


Void is an empty space
-wikipedia-

Mulai hari minggu kemarin, si orang penting (baca "orang baik"-red) mengikuti sebuah training untuk pekerjaan barunya di sebuah kamp di jawa barat. Selama seminggu orang penting itu dikarantina dari segala macam dunia luar termasuk dari benda bernama handphone. Handphone yang selalu menjadi media aku dan si orang penting untuk bersapa harus ditahan sementara. Rutinitas untuk bersapa ikut lenyap. Sebuah bagian dari kehidupanku yang biasa ikut lenyap. Ketiadaan yang menyadari artinya ada, ketiadaan yang membuat biasa menjadi lebih baik dari tidak biasa....

void...

Semenjak bekerja di tempat bekerjaku yang sekarang. Lebih dari separuh waktu dalam sehari yang kumiliki adalah untuk bekerja. Untuk memakan ranting-ranting segar di dalam semak. Keseharianku semasa kuliah untuk bermain musik, jalan-jalan, wisata kuliner, pacaran, tidur siang tergantikan oleh pekerjaan yang memakan separuh hidupku. Sisa separuhnya hanya cukup untuk makan, telpon dan tidur. Kamar kos sematawayangku menjadi sebuah kemewahan. Kerinduan akan kesenangan masa kuliah, tergantikan dengan menonton tv (yang acaranya gak karuan) dan membaca. Paling tidak, aku bisa terus menambah ilmu dengan membaca walaupun banyak waktu yang hilang hanya untuk bekerja. Ketiadaan yang menimbulkan keberadaan lainnya....

void...

Arsitektur berkembang seiring sejarah kebudayaan manusia. Sejarah yang merupakan hasil dari proses mengingat tidak luput dari pelupaan. Budaya terus berkembang berangkat dari sejarah. Berangkat dari sebuah serial pelupaan dan pengingatan. Ketiadaan untuk diisi dan berkembang....

void...

Seorang peter eisenman suatu waktu berangkat ke sebuah kuliah tamu di kota yang jauh, dimana wajahnya tidak dikenal. Dia mengklaim pada penyelenggara kuliah bahwa peter eisenman tidak bisa hadir di kuliah tersebut, dan dia yang menggantikannya. Dan kuliahpun berjalan tanpa seorangpun tahu permainan peter eisenman.(dari buku 'tracing eisenman' -red). Sebuah kehadiran dari ketiadaan yang membentuk persepsi yang lebih murni....

void....

Blog yang menandakan sebuah ketiadaan dalam diriku untuk diisi...

void....

Selasa, Desember 02, 2008

Menarilah!



Sudah beberapa bulan aku ngeblog, tapi sepertinya blom pernah nunjukin hasil peras keringatku. Oke, untuk yang pertama kali aku pengen tak tampilkan sketsa photoshopku untuk sebuah project di Jakarta.

Bukan sebuah design yang rumit, hanya sebuah drop off, secuil dari seberapa-besarnya proyek ini. Hanya saja, desain ini menurutku sangat berkesan karena seperti pernah kuceritakan di post pertama tentang arsitektur lansekap, bahwa arsitektur lansekap bisa menjadi sebuah kritik terhadap building. Di sebagian-kecil inilah aku pertamakali menyalurkan sebuah kritik kedalam desain lansekap.

Sebagai gambaran, dropoff ini merupakan sebuah dropoff apartemen. Debu ujung jempol kaki seorang raksasa baru. Kapitalis. Raksasa ini berdiri di atas sebuah arogansi, sebuah ambisi. Sungguh ironis melihat perkembangan jakarta, dimana di satu sisi, perkembangan properti komersial dan kapitalis semakin berkembang, di sisi lain, berderetan rumah kumuh di pinggir ciliwung seakan tidak diperdulikan oleh para 'pengayom rakyat kecil' di atas sana. Kekayaan dan kemiskinan yang sangat kontras, membawa hirupan debu jakarta dalam dikotomi, kemakmuran atau kesengsaaraan.

Drop off yang diberi nama happy garden drop off dengan artwork berupa dancing tribe, dengan torch di tengah dan artwork kepala yang tertawa hadir dalam dikotomi. Sebuah sukacita, menyambut para penimbun harta dengan tarian sukacita, dalam sembah untuk manusia yang menyukai hormat, dan sekaligus menertawakan para manusia awan yang kaya harta namun miskin kebersamaan. Kesuka-citaan dalam tarian sebuah suku primitif, menunjukkan sebuah suka cita tanpa pandang harta, suka cita kebersamaan, kekayaan budaya dan sosial.


Semoga pesan dalam desain ini bisa sampai di hati manusia2 awan itu. Untuk lebih sensitif. Untuk lebih peduli. Untuk lebih baik. Menjadi orang yang baik....

It's a good things to be important, but more important to be good.....





Minggu, November 30, 2008

Cacing

Pernah bermain game Spore Creatures? Sebuah permainan yang cukup populer tentang mengendalikan sebuah makhluk hidup. Pada awal permainan karakter yang diberikan hanya berupa cacing dengan mata besar, seiring permainan berkembang, sang cacing menemukan bagian tubuh yang dapat dipasang pada badannya. Setiap anggota tubuh memiliki kelebihannya masing-masing, sayap untuk terbang, kaki untuk daerah gurun dan untuk berjalan diatas lahar dll. Walaupun anggota tubuh berubah-ubah, dan kita bisa mengkreasikan bentuk makhluk hidup sesuka kita, tapi tetap ada dna yang sama di dalam tubuh makhluk hidup itu, tetap ada otak yang sama yang mengendalikan tubuh makhluk hidup itu, yaitu aku yang sedang bermain game ini di nintendo ds semata wayangku. Yup, sudah beberapa bulan ini, satu-satunya teman pengantar tidur, dan penghilang stress dari kehidupan 'luar biasa' kantorku hanya nintendo ds berwarna hitamku ini.

Sama seperti permainan spore creatures, sekarang aku juga hanya berupa cacing bermata besar, yang takjub dengan kemolekan tubuh arsitektur, takjub dengan drama-drama kehidupan arsitek bintang di luar sana, takjub dengan pandangan orang akan profesi arsitek. Masih berada di awal permainan dengan tujuan ingin terbang, ingin melompat, ingin berlari, ingin berdiri, ingin punya tangan untuk membuat karya arsitektur yang indah. Dan beberapa hari belakangan pikiranku memang sedang terusik semenjak kedatangan seorang arsitek bintang Sonny Sutanto di kantorku yang bercerita tentang bagaimana membuat biro sendiri. Yup! Memiliki biro sendiri, tentu saja menjadi tujuan utama dari hampir semua lulusan arsitektur.

Sebuah mimpi yang sangat besar, dan sangat panjang. Butuh keteguhan hati dan cinta untuk bisa mencapainya. Banyak jalan menuju kesana. Ada cacing yang ketika memiliki tangan dan kaki pertama, langsung berjuang supaya tangan dan kakinya yang kecil cukup kuat untuk mendaki gunung. Ada cacing yang menunggu lama untuk menemukan sayap agar dia bisa terbang ke atas gunung. Ada cacing yang beruntung mendapatkan kaki yang sangat kuat untuk melompat ke atas gunung. Ada yang sepanjang perjalanan menuju puncak terus berganti bagian tubuh, mencari yang terbaik. Bahkan ada cacing yang beruntung di bawa elang terbang ke atas tanpa perlu bagian tubuh.

Kesemua analogi diatas cuma mengarahkanku pada satu kesimpulan, hampir tidak mungkin menuju puncak tanpa memiliki sebuah tim yang solid. Sebuah tim dengan keahlian spesifik dan berbeda masing-masing. Keanekaragaman karakter dengan satu visi. Seorang sonny sutanto mengatakan dalam satu biro harus memiliki 3 karakter untuk jadi besar, the charming guy, the artist, dan the accountant.

I guess i rather choose the charming artist. Ha ha ha

Yang jelas, aku masih butuh banyak bagian tubuh untuk menjadi the charming artist, dengan DNAku sendiri, dengan otakku sendiri. It's still a long way to go. Saat ini, sang cacing bermata besar sedang mengakrabi kesunyian, menunggu sambil belajar memahami dunia, bersuka dan berduka dalam kubangan, menikmati ranting-ranting semak yang sangat nikmat dan nyaman.

So what do you want to be? A tail of a dragon, or a head of a chicken?

Minggu, November 23, 2008

Warna


Color or colour[1] is the visual perceptual property corresponding in humans to the categories calledred, yellow, blue and others. Color derives from the spectrum of light (distribution of light energy versus wavelength) interacting in the eye with the spectral sensitivities of the light receptors. Color categories and physical specifications of color are also associated with objects, materials, light sources, etc., based on their physical properties such as light absorption, reflection, or emission spectra. (wikipedia)

Hari ini, hari minggu pagi, lagi-lagi dilalui dengan rutinitas ngantor. Sekarang, berlibur saat weekend menjadi suatu yang sangat eksklusif. Setelah 'ngisi absen' di gereja, langsung aja motorku tak pacu menuju kantor di balik semak. Jalan yang tiap hari dilalui, telah menjadi suatu 'kebaikan' dimana kalau 'kebaikan' itu dilanggar akan menimbulkan perasaan bersalah, dosa. 

Flashback ke masa kecil, dimana aktivitas sehari-hari diisi dengan bermain perang-perangan di hutan, menjelajah mencari danau, bermain petak umpet, hidup adalah hal yang penuh dengan kedinamisan, penuh dengan warna. Dulu saat kecil aku diberi banyak warna, sekarang aku telah memilih warna, paling tidak warna yang kupilih harus kupertahankan dan kubuat indah, yaitu dengan mempelajari warna orang lain. Yup, pelajari bagaimana orang lain memperlakukan warna mereka.

Komputer kunyalakan...
Ngenet dulu, trus ngecek blogku yang belakangan cukup jarang diupdate. Baca beberapa tulisan dan comment, sampai aku sadar bahwa 2 tulisan terakhir agak berat, penuh teori. Waduh, kesambet apa nih? Membaca alur blogku sendiri membuatku menyadari warnaku tidak sepenuhnya monokrom, ada warna dalam perbedaan tema tulisanku, dalam pemikiranku, terkadang warna pencarian, terkadang warna perenungan, terkadang warna pembelajaran.

Mendengar bahwa teman-temanku sudah eksis dimana-mana, ada yang jadi dosen, ada yang sudah punya biro sendiri, ada yang keluar negeri, ada yang cemas bagaimana caranya supaya eksis, ada yang belum punya kerjaan, ada yang nyasar keluar arsitektur, membuatku cuma berguman, 'duniaku penuh warna dengan berada diantara warna-warna lain'.

Aku tidak perlu cemas, saat ini aku sedang bergerilya, bergerak di bawah tanah, menyembunyikan eksistensi, merendahkan diri, mengakrabi kesunyian, untuk mempelajari banyak hal tentang warna yang kupilih, belajar untuk meminimalkan cacat warna, belajar untuk memadukan warna, belajar untuk mempertanggungjawabkan warna, dan belajar untuk menikmati warna. Menunggu momentum untuk meledakkan warna, membuat lukisan. Tidak perlu buru-buru....

Enjoy your color...

Kamis, November 20, 2008

intimidated and rebellion space



"Revolution is not a dinner party, nor an essay, nor a painting, nor a piece of embroidery; it cannot be advanced softly, gradually, carefully, considerately, respectfully, politely, plainly, and modestly. A revolution is an insurrection, an act of violence by which one class overthrows another". Mao Zedong

Akhirnya aku punya sejumput waktu, untuk sedikit berceloteh tentang kegelisahan arsitekturalku, setelah dalam kurun waktu yang cukup lama terus dihujani si garis mati (deadline) yang sangat fenomenal di kantorku.

Beberapa waktu yang lalu aku lagi-lagi terlibat dalam diskursus arsitektur ilegal dengan sebuah rekan. Walaupun sebenarnya diskursus ilegal tersebut berjalan relatif satu arah, karena kebanyakan aku hanya mendengar dan sedikit menimpali. Satu kutipan yang masih terngiang sampai sekarang adalah " pembaharuan tidak akan terjadi tanpa revolusi". Revolusi, sebuah kata yang menampilkan disequilibrium,  pemberontakan, ledakan emosional dan kultural, sebuah perubahan. Masih berkaitan dengan kata revolusi, beberapa pekan belakangan, dunia sedang dilanda demam obama, satu hal yang menarik dari sosok fenomenal ini ada janji yang dia kemukakan untuk memenangkan pemilihan presiden amerika serikat dengan slogan " change : we can believe in". Sedikit penggalan pidatonya yang cukup membakar:

“One voice can change a room. And if a voice can change a room, it can change a city. And if it can change a city, it can change a state. And if it can change a state, it can change a nation. And if it can change a nation, it can change the world.” (obama, 2008)

Sebuah janji pembaharuan dengan pidato yang menggunakan abstraksi patriotik yang menurutku mirip dengan pendekatan teori butterfly effect. Sebuah teori dengan analogi bahwa kepakan seekor kupu-kupu bisa menjadi badai di belahan dunia lain. Teori yang lebih rumit dari analoginya. Apakah ini pertanda revolusi? Bisakah seorang obama benar-benar membawa perubahan atau hanya differensiasi?

Ha ha ha..... Nggak, aku nggak akan berbicara politik lebih jauh dari hal tadi, atau aku juga sedang tidak mengajak orang-orang untuk menabuh genderang revolusi. Semua hal tadi hanya pemikiran-pemikiran yang mengantarkanku kembali pada pertanyaan ruang, pada arsitektur. Ruang sebagai sebuah organisme yang punya rasa sensitif. Sebuah bagian dari gaia. Berbicara mengenai ruang yang sensitif, sebuah pertanyaan arsitektural oleh sang superstar bernard tschumi terngiang di kepalaku: apakah ruang sebagai material mempunyai batas? apakah ada ruang diluar batas tersebut? kalau tidak ada ruang, apakah ini berarti sesuatu dibentangkan secara tak terbatas?

Tenang, pertanyaan tersebut memang bisa menjadi diskursus yang panjang dengan level tinggi, dan aku belum sampai kesitu. Dari berbagai kutipan-kutipan dan analogi-analogi diatas, hanya untuk membawaku kepada sebuah kritik akan sebuah keadaan ruang yang unik. Ruang yang diberikan batas secara konteks dan konten untuk menjadi beda, untuk menjadi tumbal, untuk menjadi ruang pembenaran. Bayangkan sebuah ruang yang dituntut untuk menjadi simbol, untuk menjadi menjadi benar dalam sebuah konteks yang sudah terlanjur memperkosa konteks kawasan dan juga memperkosa konsep ruang kompleks itu sendiri. Ruang pembenaran, ruang yang dipaksakan berbagai macam konten untuk menjadi superhero. Akan terjadi jika ruang tersebut merupakan ruang yang penurut. Namun sebagai sebuah bagian dari gaia, ruang juga mempunyai kesensitifan terhadap intimidasi konteks dan konten tersebut, punya keseimbangan di dalam ruang dan punya batasan dalam kesensitifannya. Jika sudah melebihi kemampuan ruang, maka yang terjadi adalah pemberontakan ruang. Terjadi penolakan batas, penghancuran konten, pelecehan struktur, pencorengan muka konteks, penamparan konsep. Ruang kecil yang dihimpit dan diintimidasi secara berlebihan tentu saja ingin bersuara untuk menyampaikan ketidaknyamanannya, kegelisahannya.

Dalam kasus seperti ini, ruang memiliki batas relatif, batasnya adalah ruang lain. Dan ruang selalu bereaksi terhadap batasnya tergantung intimidasi yang diperoleh. Yup! Ruang bisa memberontak, aku nggak berbicara mengenai bentuk, karena pemberontakan bentuk bisa diacuhkan, tapi untuk bisa menampar, diperlukan lebih dari itu.

Apakah ini sebuah bisa menjadi sebuah kepakan kupu-kupu yang bisa menimbulkan badai ruang? Apakah usaha pemberontakan ruang tersebut dapat berubah menjadi revolusi dan membawa ke pembaharuan?

Change, we can believe in....
:-)